Skip to main content

Hukum Syara dan Pembagiannya: Bagian 1

Hukum Syara dan Pembagiannya

Fiqih MA Kelas XII

Bagian 1: Mahkum Fih (Obyek Hukum)


A. Pengertian

    Menurut usuliyyin, mahkum fih adalah obyek hukum, yaitu perbuatan seorang mukallaf yang terkait dengan perintah syar’i (Allah dan Rasulnya).

    Adapun menurut ulama ushul fiqih, mahkum diartikan sebagai obyek hukum meliputi perbuatan seorang mukallaf yang terkait dengan perintah syar’i baik yang bersifat tuntutan mengerjakan, tuntutan meninggalkan, memilih sesuatu pekerjaan dan yang bersifat syarat  sebab, halangan, azimah, rukhsah, sah dan batal.

B. Syarat-syarat mahkum fih diantaranya:

  1.  Mukallaf mengetahui perbuatan yang akan dilakukan, sehingga tujuannya jelas dan dapat dilaksanalan.
  2. Mukallaf harus mengetahui sumber taklif, supaya mengetahui bahwa tuntutan itu dari Allah, sehingga melaksanakannya berdasrkan ketaatan dengan tujuan melaksanakannya karena Allah semata.
  3. Perbuatan harus mungkin untuk dilaksanakan atau ditinggalkan dengan catatan:
  4. Tidak sah suatu tuntutan yang dinyatakan untuk dikerjakan atau ditinggalkan baik berdasarkan dzatnya ataupun tidak.
  5. Tidak sah hukumnya seseorang melakukan perbuatan yang ditaklifkan untuk dan atas nama orang lain.
  6. Tidak sah tuntutan yang berhubungan dengan perkara yang berhubungan dengan fitrah manusia.
  7. Tercapainya cara taklif tersebut.

C. Macam-Macam Mahkum Fih

    Ditinjau dari keberadaannya secara material dan syara’:

  1. Perbuatan yang secara material ada, tetapi tidak termasuk perbuatan yang terkait dengan syara’, seperti makan dan minum.
  2. Perbuatan yang secara material ada dan menjadi sebab adanya hukum syara, seperti perzinaan, pencurian dan pembunuhan.
  3. Perbuatan yang secara material ada dan diakui syara’ serta mengakibatkan hukum syara’ yang lain, seperti: nikah, jual beli, dan sewa menyewa.

    Ditinjau dari segi hak yang terdapat dalam perbuatan itu, yaitu:

  1. Semata-mata hak Allah, yaitu segala sesuatu yang menyangkut kepentingan san kemaslahatam umum tanpa kecuali.
  2. Hak hamba yang terkait dengan kepentingan pribadi seseorang seperti ganti rugi harta seseorang yang dirusak.
  3. Kompromi antara hak Allah dan hak hamba tetapu hak Allag di dalamnya lebih dominan seperti hukuman untuk tindak pidana qadzaf (menuduh orang lain berbuat zina).
  4. Kompromi antara hak Allah dan hak hambanya, tetalj hak hamba lebih dominan seperti qishas.

D. Contoh Mahkum Fih:

Dalam QS. Al Baqarah ayat 43

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرَّاكِعِيْنَ

Dirikanlah shalat.”

Ayat ini menunjukan perbuatan seorang mukallaf, yaitu tuntutqn mengerjakan shalat/kewajiban mendirikan shalat.

Dalam QS. Al An’am ayat 151

... وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّۗ

Jangan kamu membunuh jiwa yang telah diharamkan oleh Allah melainkan dengan sesuatu/sebab yang benar.”

Ayat ini mengandung larangan yang terkait dengan perbuatan mukallaf, takni larangan melakukan pembunuhan tanpa hak itu hukumnya haram.

QS. Al Maidah ayat 5-6

Apabila kamu hendak melakukan shalat, maka basuhlah mukamu dqn dua tanganmu sampai siku-siku.

Ayat ini mengandung salah satu perbuatan seorang mukallaf, yakni salah satu syarat sahnya shalat dan berwudhu.


Al Masyaqah (Halangan)

Macam-macam Al Masyaqah:

  1. Masyaqah Mu’tadah, kesulitan yang mampu diatasi oleh manusia tanpa menimbulkan bahaya bagi dirinya. Kesulitan seperti ini tidak bisa dijadikan alas an untuk tidak mengerjakan taklif, karena setiap perbuatan itu tidak mungkin terlepas dari kesulitan. Contoh: Diwajibkannya adanya shalat, ini bukan bermaksud agar bada capek atau bagaimana, akan tetapi untuk melatih dirinya, diantaranya bisa mencegah perbuatan keji dan munkar.
  2. Musyaqah ghairu mu’tadah, yaitu suatu kesulitasn/kesusahan yang diluar kekuasaan manusia dalam mengatasinya dan akan merusak jiwanya bila dipaksakan. Allah tidak menuntut manusia untuk melakukan perbuatan yang menyebabkan kesusahan. Contoh: Puasa yang terus menerus sehingga mewajibkan selalu bangun malam untuk sahur, terdapat dalam QS. Al Baqarah ayat 105 yang artinya “Allah menghendaki kmudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”.

Referensi:
Kementrian Agama. (2016). Buku Siswa: Fikih Kelas XII. Jakarta: Kementrian Agama.

Comments

Tujuan Pendidikan Dalam Perspektif Islam

Cara Membuat Daftar Isi, Daftar Tabel dan Daftar Gambar otomatis dengan Ms.Word

  Membuat Daftar Isi, Daftar Tabel dan  Daftar Gambar otomatis dengan Ms.Word A.      Pendahuluan Dalam pembuatan suatau karya tulis ilmiah, terkhusus tugas-tugas makalah, penelitian, skripsi dan lainnya pasti menggunkan Microsft Word. Tentunya dlam karya-karya tersebut setidaknya akan mencantumkan gambar dan tabel setidaknya 1 atau 2. Oleh sebab itu dibutuhkan daftar isi yang juga memuat daftar tabel dan daftar tabel. Berikut adalah cara membuat daftar isi, daftar tabel dan daftar gambar secara otomatis pada Ms.Word. yang ditulis sendiri oleh penulis menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan pemaparan yang cukup jelas. Sebelum menggunakan Miscrosoft Word dan lainnya tentu kita harus mengetahui t ampilan area kerja MS Word beserta element-elementnya yang terdiri atas title bar, menu bar, toolbar, ruler. Berikut adalah beberapa element penting yang harus diketahui dalam membuat  daftar isi, daftar tabel dan daftar gambar otomatis dengan Ms.Word : Tab a...

Perubahan Capaian Pembelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2026

Keputusan Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) CP 020/2026 terkait peruabhan Capaian Pembelajaran (CP) ada pada taksonomi. Dimana pada tahun ini Pendidikan Agama dan Budi Pekerti menggunakan Taksonomi SOLO yaitu ( Structure of Observed Learning Outcomes ). Taksonomi SOLO adalah kerangka kerja yang dikembangkan oleh John Biggs dan Kevin Collis pada tahun 1982 untuk mengukur dan memahami seberapa dalam tingkat pemahaman siswa terhadap suatu materi, mulai dari tahap paling sederhana hingga kompleks. Webinar yang diselenggarakan oleh Kemendikdasmen terkait perubahan taksonomi pada capaian pembelajran ini dibahas secara virtual pada Selasa, 30 Juni 2026.  Adapun perubahan poin-poin pada inti materi yang juga dibahas secara virtual oleh Kemendikdasmen via Zoom Meeting dan kanal YouTube Direktorat PAI Kemenag dilakukan pada Rabu, 1 Juli 2026 yang disampaikan oleh Bapak Moh. Ghozali , S.Ag., M.Pd. dan Bapak Dr. Ahmad Faozan, S.Ag., M.Pd. . Berikut beberapa...